• Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Login
Vide Times
Advertisement
  • Home
  • Advetorial
    • DPRD Samarinda
    • Diskominfo Kukar
    • DPRD Kutai Timur
    • Diskominfo Kutai Timur
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Peristiwa & Kriminal
  • Lainnya
    • Opini
    • Otomotif
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Advetorial
    • DPRD Samarinda
    • Diskominfo Kukar
    • DPRD Kutai Timur
    • Diskominfo Kutai Timur
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Peristiwa & Kriminal
  • Lainnya
    • Opini
    • Otomotif
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Teknologi
No Result
View All Result
Vide Times
No Result
View All Result
Home Lainnya Opini

Menolak “Demokrasi Mundur”: Mengapa Pilkada Langsung Harga Mati?

AdminWeb by AdminWeb
19 Januari 2026
in Opini
0
Menolak “Demokrasi Mundur”: Mengapa Pilkada Langsung Harga Mati?
7
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

OPINI, VIDETIMES.com – Wacana pengembalian mekanisme Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) ke tangan DPRD kembali menyeruak ke permukaan, memicu diskursus publik yang hangat di awal tahun 2026 ini. Bagi sebagian pihak, Pilkada melalui DPRD dianggap sebagai solusi atas biaya politik tinggi dan polarisasi sosial. Namun, jika kita menyelami lebih dalam—terutama melalui kacamata ideologis PDI Perjuangan—usulan ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan sebuah lonceng kematian bagi kedaulatan rakyat.

Pengkhianatan Terhadap Reformasi

Langkah mundur ini secara tegas ditolak oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, dalam pidato politiknya di Rakernas I pada Januari 2026 lalu. Beliau menyebut wacana Pilkada tidak langsung sebagai “pengkhianatan terhadap semangat reformasi.” Pernyataan ini bukan tanpa alasan. Reformasi 1998 lahir untuk meruntuhkan tembok elitisme yang selama puluhan tahun menyekat suara rakyat. Mengembalikan Pilkada ke DPRD berarti menarik kembali mandat yang sudah diberikan kepada rakyat dan menyerahkannya kembali ke tangan segelintir elite politik.

Demokrasi, dalam perspektif Soekarnoisme, tidak boleh hanya menjadi prosedur formal di atas kertas. Ia harus menjadi “jembatan emas” bagi rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri. Ketika hak pilih rakyat dicabut dan dipindahkan ke ruang-ruang sidang DPRD yang tertutup, maka rakyat kembali diposisikan sebagai penonton di tanah airnya sendiri.

Politik “Dagang Sapi” dan Delegitimasi

Secara pragmatis, argumen bahwa Pilkada lewat DPRD akan menghemat biaya adalah narasi yang menyesatkan. Pengalihan ini justru berisiko menyuburkan praktik “politik dagang sapi” di tingkat legislatif. Tanpa kontrol langsung dari rakyat, proses penentuan pemimpin daerah sangat rentan terjebak dalam transaksi antar-elite partai di daerah.

Kepala daerah yang lahir dari rahim DPRD akan memiliki loyalitas tunggal kepada fraksi-fraksi yang mengusungnya, bukan kepada warga yang dipimpinnya. Hal ini akan melahirkan pemimpin yang “bermuka dua”: tunduk pada keinginan legislatif demi menjaga stabilitas kursi, namun abai terhadap jeritan kebutuhan rakyat di lapangan. Legitimasi kepemimpinan pun akan rapuh karena tidak memiliki akar dukungan massa yang kuat.

Menjaga Marwah Kedaulatan

Dalam Rakernas I Januari 2026, PDI Perjuangan menegaskan bahwa solusi atas kekurangan Pilkada langsung bukanlah dengan menghapusnya, melainkan membenahinya. Jika masalahnya adalah biaya, maka sistem digitalisasi pemilihan (e-voting) dan pengetatan aturan dana kampanye adalah jawabannya. Jika masalahnya adalah polarisasi, maka pendidikan politik yang dewasa adalah kuncinya.

Menolak Pilkada melalui DPRD adalah bentuk konsistensi dalam menjaga marwah demokrasi. Kita tidak boleh membiarkan demokrasi Indonesia mengalami backsliding atau kemunduran hanya karena alasan efisiensi semu. Kedaulatan rakyat adalah napas dari republik ini. Sebagaimana ditegaskan Megawati, rakyat tidak boleh hanya menjadi objek kebijakan, melainkan harus tetap menjadi subjek utama yang berdaulat secara politik.

Pemilu Langsung Bagian Kedaulatan

Menjaga Pilkada langsung adalah menjaga api reformasi agar tetap menyala. Kita tidak boleh mempertaruhkan masa depan daerah pada mekanisme yang menjauhkan pemimpin dari rakyatnya. Demokrasi memang tidak murah, namun ia jauh lebih berharga daripada stabilitas semu yang dibangun di atas pembungkaman hak konstitusional warga negara.

Pilkada langsung adalah ujian sekaligus bukti bahwa kita percaya pada kecerdasan rakyat Indonesia. Mari kita jaga kedaulatan itu, sebelum ia kembali dirampas oleh kepentingan elitis yang haus kuasa. (***)

Penulis : Abdur Rachman Wahid, Kader PDI Perjuangan Provinsi Kaltim

Tags: PDI PerjuanganPilkada
Berita Sebelumnya

Komodo di Ujung Tanduk: Saat Konservasi Tumbang demi Ambisi Wisata Mewah

AdminWeb

AdminWeb

Related Posts

Komodo di Ujung Tanduk: Saat Konservasi Tumbang demi Ambisi Wisata Mewah
Opini

Komodo di Ujung Tanduk: Saat Konservasi Tumbang demi Ambisi Wisata Mewah

by AdminWeb
18 Januari 2026
Suharto dan Gelar Pahlawan: Penghargaan atau Penghinaan bagi Sejarah?
Opini

Suharto dan Gelar Pahlawan: Penghargaan atau Penghinaan bagi Sejarah?

by AdminWeb
11 November 2025
80 Tahun Merdeka, Apakah Pendidikan Kita Ikut Merdeka?
Opini

80 Tahun Merdeka, Apakah Pendidikan Kita Ikut Merdeka?

by AdminWeb
19 Agustus 2025
Ada Apa dengan PPATK dan Wewenang Pemblokiran di Tengah Seretnya Perekonomian Bangsa
Opini

Ada Apa dengan PPATK dan Wewenang Pemblokiran di Tengah Seretnya Perekonomian Bangsa

by AdminWeb
31 Juli 2025
Dilema Masyarakat Terhadap Dinamika Permasalahan di Desa Bumi Etam: Terbatasnya Akses karena Kurangnya Transparansi
Opini

Dilema Masyarakat Terhadap Dinamika Permasalahan di Desa Bumi Etam: Terbatasnya Akses karena Kurangnya Transparansi

by AdminWeb
11 Juli 2025

Terbaru

Tolak Kenaikan PPN 12%, Menjadi Ancaman Baru bagi Rakyat

Tolak Kenaikan PPN 12%, Menjadi Ancaman Baru bagi Rakyat

30 Desember 2024
Oprasi Gabungan di Samarinda, 32 Jukir Liar Diamankan

Oprasi Gabungan di Samarinda, 32 Jukir Liar Diamankan

13 Agustus 2024
Bupati Salurkan Bantuan ke Musholla Al Mubarok Dalam Safari Subuh

Bupati Tenggarong Berbagi di Safari Subuh, Bantuan Disalurkan ke Musholla Al Mubarok

16 Maret 2025

Tags

Budianto Bulang Bupati Kukar Demokrasi Dispora Kukar DPD PDI Perjuangan Kaltim DPRD Kutai Timur DPRD Samarinda Edi Damansyah Explore Bali Gerakan Etam Mengaji Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia GMNI GMNI Samarinda IKN Kaltim Kampus KNPI Kukar Kukar Idaman Kutai Kartanegara Kutai Timur Kutim Mahasiswa Market Stories Pandemic PDI Perjuangan Pemkab Kukar Pemuda Pemuda Kukar Pertamina Pilkada Ramadan Samarinda Sekda Kukar Silaturahmi Stay Home Tambang Tenggarong Tenggarong Seberang Terhangat United Stated Unmul Vaccine Work From Home Wuhan
Vide Times

Videtimes.com dipayungi PT VIDE DIGITAL NUSANTARA. Kumpulan berita terkini dan terupdate dengan slogan "TAMAN INFORMASI"

Link Navigasi

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

Berita Terbaru

  • Menolak “Demokrasi Mundur”: Mengapa Pilkada Langsung Harga Mati?
  • Komodo di Ujung Tanduk: Saat Konservasi Tumbang demi Ambisi Wisata Mewah
  • PDI Perjuangan Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD, Ananda Emira: Demokrasi Rakyat Jangan Diganggu

© 2024 Vide Times - All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • Home
  • Advetorial
    • DPRD Samarinda
    • Diskominfo Kukar
    • DPRD Kutai Timur
    • Diskominfo Kutai Timur
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Peristiwa & Kriminal
  • Lainnya
    • Opini
    • Otomotif
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Teknologi

© 2024 Vide Times - All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?