• Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Login
Vide Times
Advertisement
  • Home
  • Advetorial
    • DPRD Samarinda
    • Diskominfo Kukar
    • DPRD Kutai Timur
    • Diskominfo Kutai Timur
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Peristiwa & Kriminal
  • Lainnya
    • Opini
    • Otomotif
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Advetorial
    • DPRD Samarinda
    • Diskominfo Kukar
    • DPRD Kutai Timur
    • Diskominfo Kutai Timur
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Peristiwa & Kriminal
  • Lainnya
    • Opini
    • Otomotif
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Teknologi
No Result
View All Result
Vide Times
No Result
View All Result
Home Lainnya Opini

Komodo di Ujung Tanduk: Saat Konservasi Tumbang demi Ambisi Wisata Mewah

AdminWeb by AdminWeb
18 Januari 2026
in Opini, Peristiwa & Kriminal
0
Komodo di Ujung Tanduk: Saat Konservasi Tumbang demi Ambisi Wisata Mewah
46
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

OPINI, Videtimes.com – Permata Nasional yang Mulai Dijual Mahal
Siapa yang tidak mengenal Komodo?
Naga purba yang hanya ada di Indonesia ini bukan sekadar satwa langka, melainkan kebanggaan nasional yang telah menjadi wajah keajaiban alam kita di mata dunia. Sebagai salah satu dari New 7 Wonders of Nature dan Situs Warisan Dunia UNESCO, Taman Nasional Komodo (TNK) adalah simbol harmoni yang rapuh antara manusia, satwa, dan alam liar. Selama berdekade-dekade, dunia mengenal TNK sebagai benteng terakhir konservasi yang menjaga kemurnian ekosistem purba dari hiruk-pikuk modernitas.  

Namun, jika kita melihat perkembangan berita belakangan ini, ada sesuatu yang terasa sangat janggal dalam kebijakan pengelolaannya. Narasi tentang Komodo tidak lagi didominasi oleh kekaguman akan perilaku unik sang naga atau keindahan Pantai Merah (Pink Beach) yang mendunia. Kini, pembicaraan tersebut telah bergeser menjadi deretan angka-angka investasi, tarif tiket yang melonjak hingga jutaan rupiah, serta pembangunan infrastruktur beton yang megah di tengah habitat liar.  

Dalam kacamata politik pariwisata global, fenomena ini dikenal sebagai komodifikasi. Pemerintah tampak sedang berusaha keras “mengemas” Komodo menjadi sebuah produk pariwisata super-premium atau eksklusif. Masalahnya, ketika sebuah kawasan konservasi yang seharusnya dilindungi demi ilmu pengetahuan dan keberlanjutan mulai diperlakukan layaknya barang dagangan mewah, ada harga mahal yang harus dibayar. Harga tersebut bukan hanya soal nominal uang yang dikeluarkan turis, melainkan hilangnya kedaulatan masyarakat lokal dan terancamnya kelestarian alam itu sendiri. Artikel ini akan membedah mengapa ambisi pariwisata eksklusif ini sebenarnya adalah ancaman nyata bagi keberlanjutan TNK dan bagaimana kebijakan internasional mulai mencium aroma bahaya di balik pembangunan tersebut.  

Logika Komodifikasi: Alam sebagai Barang Dagangan.
Masalah utama bermula ketika pemerintah mulai memandang alam hanya dari kacamata nilai ekonomis semata. Komodifikasi adalah sebuah proses mengubah sesuatu yang secara hakikat bukanlah barang dagangan seperti hewan langka, ritual adat, atau bentang alam menjadi sebuah “produk” yang bisa dipasarkan demi keuntungan maksimal. Dalam politik pariwisata, komodifikasi terjadi saat nilai-nilai luhur seperti keanekaragaman hayati diubah menjadi aset komersial yang tunduk pada keinginan pasar.  

Pemerintah Indonesia terlihat sangat berambisi mengejar predikat “destinasi super prioritas” untuk wilayah Labuan Bajo dan sekitarnya. Dampaknya, Komodo tidak lagi dipandang sebagai makhluk hidup yang harus dilindungi demi keseimbangan ekosistem, melainkan sebagai “aset” atau “pajangan” untuk menarik dolar dari turis kaya mancanegara. Rencana kenaikan tiket masuk hingga Rp 3,75 juta yang sempat menggegerkan publik adalah bukti nyata dari logika ini. Pemerintah berdalih bahwa harga mahal adalah cara untuk membatasi jumlah pengunjung (kuota) demi kepentingan konservasi, namun argumen ini terasa sangat timpang dan kontradiktif.  
Mengapa timpang? Karena di saat yang bersamaan, pemerintah justru gencar membangun infrastruktur permanen berskala besar di dalam kawasan inti.

Jika tujuan utamanya benar-benar ingin membatasi kehadiran manusia, mengapa harus membangun fasilitas megah yang justru berpotensi memicu kerumunan besar?. Di sinilah kita melihat bahwa istilah “konservasi” sering kali hanya menjadi jargon politik atau kedok untuk menjustifikasi kenaikan harga bagi segelintir kalangan atas, sementara rakyat kecil dan mahasiswa dalam negeri harus gigit jari karena tidak lagi mampu mengakses tanah airnya sendiri. Ini menciptakan ketimpangan akses yang nyata terhadap sumber daya alam milik negara.  

Pembangunan Infrastruktur yang Merusak: Isu “Jurassic Park”.
Pembangunan sarana prasarana beton, seperti dek observasi raksasa di Pulau Rinca, sering kali dianggap mengabaikan prinsip-prinsip dasar konservasi. Dalam politik pariwisata, istilah “pembangunan berkelanjutan” kerap digunakan sebagai bungkus untuk menyembunyikan pembangunan infrastruktur masif yang merusak habitat asli komodo demi mengejar kenyamanan turis premium.  
Masih terekam jelas di ingatan publik foto viral seekor komodo yang berdiri berhadapan dengan truk proyek di Pulau Rinca. Foto tersebut adalah simbol paling kuat dari kegagalan kebijakan kita; bagaimana mesin-mesin industri berat masuk ke ruang privat satwa langka hanya atas nama “modernisasi wisata”. Padahal, daya tarik utama Komodo adalah keliarannya di alam bebas, bukan kemewahan fasilitas beton di sekitarnya. Memaksakan infrastruktur modern ke dalam ekosistem purba adalah bentuk ketidaktahuan dalam mengelola aset global yang tak ternilai harganya.  

Benturan dengan Standar Internasional: Teguran UNESCO.
Karena statusnya sebagai warisan dunia, masalah ini pun berkembang menjadi isu kebijakan internasional yang serius. UNESCO sebagai lembaga pengawas internasional telah mengeluarkan laporan resmi yang menyoroti risiko tinggi dari pembangunan infrastruktur permanen tersebut. Mereka bahkan memberikan peringatan keras bahwa status “Situs Warisan Dunia” Komodo bisa dicabut jika pembangunan tersebut terbukti merusak nilai lingkungan atau Outstanding Universal Value (OUV).  

UNESCO menuntut adanya Environmental Impact Assessment (EIA) atau AMDAL yang lebih transparan dan sesuai dengan standar global. Ini menjadi tamparan keras bagi politik pariwisata nasional kita. Meskipun kita merasa memiliki kedaulatan penuh atas wilayah NKRI, di era global saat ini, predikat dunia membawa konsekuensi hukum dan moral. Konflik antara ambisi ekonomi nasional dengan standar konservasi internasional menunjukkan adanya ketidaksinkronan visi dalam menjaga keaslian habitat.  

Marginalisasi Warga Lokal: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Pertanyaan krusialnya adalah: siapa yang paling terdampak dari kebijakan wisata eksklusif ini?. Tentu saja masyarakat lokal, terutama penduduk Desa Komodo yang sudah berabad-abad hidup berdampingan dengan sang naga. Mereka sering kali tidak dilibatkan secara bermakna dalam proses pengambilan keputusan besar yang menyangkut ruang hidup mereka.  
Ketika pariwisata dikelola secara eksklusif oleh korporasi besar atau investor asing melalui sistem paket yang tertutup, mata pencaharian warga lokal sebagai pemandu wisata independen atau pengrajin suvenir menjadi sangat terancam. Ada risiko displacement atau pengusiran secara halus melalui kebijakan ekonomi. Saat biaya hidup di Labuan Bajo meroket akibat statusnya sebagai destinasi premium, masyarakat lokal yang ekonominya pas-pasan akan semakin terpinggirkan dari tanah kelahirannya sendiri. Bahkan, kedaulatan warga mulai tergerus oleh izin-izin konsesi perusahaan swasta yang beroperasi di dalam kawasan taman nasional.  

Data dari berbagai jurnal penelitian menunjukkan bahwa meski terjadi pertumbuhan ekonomi yang pesat di Labuan Bajo, pertumbuhan tersebut bersifat semu jika tidak diikuti pemerataan kesejahteraan. Tantangan nyata di lapangan justru meningkat, mulai dari masalah sampah, krisis air bersih, hingga kerusakan terumbu karang akibat lalu lintas kapal yang tidak terkendali.  

Kesimpulan dan Rekomendasi.
Pariwisata seharusnya menjadi alat untuk menyejahterakan rakyat dan menjaga alam, bukan sekadar instrumen untuk memburu predikat “premium” bagi kalangan terbatas. Taman Nasional Komodo adalah ujian bagi kedaulatan politik dan moral bangsa kita di mata dunia. Jika kita gagal menjaganya hanya karena tergiur oleh dolar jangka pendek dari pariwisata eksklusif, maka kita sedang melakukan pengkhianatan terhadap masa depan generasi mendatang.  

Berdasarkan analisis di atas, berikut adalah rekomendasi yang dapat diambil:
Kembalikan Marwah Konservasi: Pemerintah harus mendengarkan rekomendasi UNESCO secara serius. Segera hentikan pembangunan beton yang tidak perlu dan fokuskan anggaran pada penguatan kapasitas polisi hutan serta penelitian ilmiah mengenai spesies Komodo.  

Demokratisasi Akses Wisata: Komodo jangan dijadikan tempat yang hanya bisa dikunjungi oleh orang kaya. Perlu adanya model harga berjenjang atau subsidi silang agar mahasiswa dan peneliti domestik tetap bisa belajar dari alamnya sendiri tanpa terbebani biaya jutaan rupiah. 
 
Pemberdayaan Berbasis Komunitas: Masyarakat lokal harus diposisikan sebagai subjek, bukan sekadar penonton atau buruh murah di tanah sendiri. Berikan mereka akses legal dan bantuan modal untuk mengelola ekowisata secara mandiri agar keuntungan pariwisata benar-benar masuk ke kantong rakyat.  

Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan Komodo seperti pajangan di etalase toko mewah. Biarkan naga itu tetap liar, biarkan alamnya tetap asli, dan pastikan rakyat lokal tetap menjadi penjaganya yang paling setia. Karena pada akhirnya, pariwisata yang sejati adalah pariwisata yang menghormati kehidupan, bukan yang mengkomodifikasikannya hingga mati.

Referensi

Decision 45 COM 7B.15 – Komodo National Park (Indonesia), 2023.
Mongi et al. (2024), “Tinjauan perspektif ekologi politik: Persepsi masyarakat terhadap rencana pembangunan wisata premium di Taman Nasional Komodo
Disclosure Of Community Welfare: Implications Of Super Premium Tourism Program Implementation, 2020.
Komodo National Park: The Only Home of Komodo Dragons in Peril, submitted for World Heritage Watch Report 2021.
Collaborative Integrated Sustainable Tourism Management Model: A Case of Labuan Bajo, Indonesia, 2023.

Penulis: Yoseph Sugi Doren
Mahasiswa Program Studi: Hubungan Internasional Universitas Bosowa

Berita Sebelumnya

PDI Perjuangan Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD, Ananda Emira: Demokrasi Rakyat Jangan Diganggu

Berita Selanjutnya

Menolak “Demokrasi Mundur”: Mengapa Pilkada Langsung Harga Mati?

AdminWeb

AdminWeb

Related Posts

Menolak “Demokrasi Mundur”: Mengapa Pilkada Langsung Harga Mati?
Opini

Menolak “Demokrasi Mundur”: Mengapa Pilkada Langsung Harga Mati?

by AdminWeb
19 Januari 2026
Komisi II DPRD Samarinda Kebuti Ranperda Usaha Mikro, Fokus Pemberdayaan dan Perlindungan UMKM
DPRD Samarinda

Komisi II DPRD Samarinda Kebuti Ranperda Usaha Mikro, Fokus Pemberdayaan dan Perlindungan UMKM

by AdminWeb
24 Desember 2025
DPRD Samarinda Dorong Kejelasan Penerapan PKPU Nomor 3 Tahun 2025 soal PAW
DPRD Samarinda

DPRD Samarinda Dorong Kejelasan Penerapan PKPU Nomor 3 Tahun 2025 soal PAW

by AdminWeb
11 Desember 2025
Buka Bupati Cup 2025, Ardiansyah Tantang Atlet Voli Kutim Pertahankan Tradisi Emas
Diskominfo Kutai Timur

Buka Bupati Cup 2025, Ardiansyah Tantang Atlet Voli Kutim Pertahankan Tradisi Emas

by AdminWeb
30 November 2025
Bupati Ardiansyah: Kutai Timur Adalah “Magic Land”
Peristiwa & Kriminal

Bupati Ardiansyah: Kutai Timur Adalah “Magic Land”

by AdminWeb
18 November 2025
Berita Selanjutnya
Menolak “Demokrasi Mundur”: Mengapa Pilkada Langsung Harga Mati?

Menolak “Demokrasi Mundur”: Mengapa Pilkada Langsung Harga Mati?

Terbaru

Pemuda Tani Jaya Desak Sidak dan Hentikan Tambang PT BSSR Usai Longsor Batuah

Pemuda Tani Jaya Desak Sidak dan Hentikan Tambang PT BSSR Usai Longsor Batuah

20 Juni 2025
PKS Minta Pemerintah Percepat Multiyears dan Tuntaskan Masalah Air Bersih, Listrik, serta Pengawasan Program RT

PKS Minta Pemerintah Percepat Multiyears dan Tuntaskan Masalah Air Bersih, Listrik, serta Pengawasan Program RT

27 November 2025
Kutim Fokus Rehabilitasi Sawah dan Revitalisasi Lahan Tidak Produktif

Kutim Fokus Rehabilitasi Sawah dan Revitalisasi Lahan Tidak Produktif

19 November 2025

Tags

Budianto Bulang Bupati Kukar Demokrasi Dispora Kukar DPD PDI Perjuangan Kaltim DPRD Kutai Timur DPRD Samarinda Edi Damansyah Explore Bali Gerakan Etam Mengaji Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia GMNI GMNI Samarinda IKN Kaltim Kampus KNPI Kukar Kukar Idaman Kutai Kartanegara Kutai Timur Kutim Mahasiswa Market Stories Pandemic PDI Perjuangan Pemkab Kukar Pemuda Pemuda Kukar Pertamina Pilkada Ramadan Samarinda Sekda Kukar Silaturahmi Stay Home Tambang Tenggarong Tenggarong Seberang Terhangat United Stated Unmul Vaccine Work From Home Wuhan
Vide Times

Videtimes.com dipayungi PT VIDE DIGITAL NUSANTARA. Kumpulan berita terkini dan terupdate dengan slogan "TAMAN INFORMASI"

Link Navigasi

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

Berita Terbaru

  • Menolak “Demokrasi Mundur”: Mengapa Pilkada Langsung Harga Mati?
  • Komodo di Ujung Tanduk: Saat Konservasi Tumbang demi Ambisi Wisata Mewah
  • PDI Perjuangan Tegas Tolak Pilkada Lewat DPRD, Ananda Emira: Demokrasi Rakyat Jangan Diganggu

© 2024 Vide Times - All Right Reserved.

No Result
View All Result
  • Home
  • Advetorial
    • DPRD Samarinda
    • Diskominfo Kukar
    • DPRD Kutai Timur
    • Diskominfo Kutai Timur
  • Daerah
  • Nasional
  • Politik
  • Ekonomi & Bisnis
  • Peristiwa & Kriminal
  • Lainnya
    • Opini
    • Otomotif
    • Lifestyle
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Teknologi

© 2024 Vide Times - All Right Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?