
VIDETIMES – Rencana pemerintah untuk mendorong pengembangan sorgum sebagai pengganti sawit belum mendapat sambutan luas di Kecamatan Kaliorang. Warga menilai komoditas baru itu belum memiliki jaminan pasar dan keuntungan yang jelas.
Camat Kaliorang, Rusmono, menuturkan bahwa sebagian besar masyarakat masih memilih sawit karena sudah terbukti menghasilkan.
“Kalau sawit itu sudah nyata, tiap bulan ada hasil. Kalau sorgum, masyarakat masih ragu,” ujarnya, Minggu (16/11/2025).
Menurutnya, masyarakat di Kaliorang berpikir realistis. Mereka membutuhkan penghasilan yang bisa langsung dirasakan, bukan sekadar kegiatan seremonial tanam.
“Petani itu melihat hasil. Mereka bukan tidak mau diversifikasi, tapi harus jelas pasarnya,” katanya.
Rusmono menjelaskan, kekhawatiran warga cukup beralasan. Saat ini, rantai distribusi sorgum di Kutai Timur belum terbentuk, sementara biaya produksi diperkirakan cukup tinggi.
“Kalau biaya tanamnya besar tapi hasilnya belum tentu laku, petani pasti berpikir dua kali,” jelasnya.
Ia menambahkan, sorgum memerlukan pendampingan serius agar bisa diterima masyarakat. Selain pasar, juga dibutuhkan dukungan teknologi dan pelatihan.
“Tanaman baru itu perlu edukasi, jangan dilepas begitu saja,” ucapnya.
Selain itu, masyarakat Kaliorang sudah memiliki pengalaman panjang dengan sawit. Banyak keluarga yang menggantungkan hidup dari kebun tersebut selama bertahun-tahun.
“Mereka sudah paham pola tanam, perawatan, sampai waktu panennya. Jadi wajar kalau agak berat beralih,” tutur Rusmono.
Ia menegaskan bahwa pihak kecamatan tetap terbuka terhadap inovasi pertanian baru. Namun, pendekatannya harus realistis dan berorientasi hasil.
“Kami mendukung program diversifikasi, tapi jangan sampai petani dirugikan,” ujarnya.
Rusmono juga berharap pemerintah provinsi dan kabupaten melakukan kajian mendalam sebelum mendorong pergeseran komoditas.
“Kalau mau dorong sorgum, harus pastikan dulu ada pembeli. Kalau tidak, nanti hanya buang tenaga,” katanya.
Menurutnya, program apapun akan berjalan baik bila ada sinergi antara pemerintah, petani, dan pelaku pasar.
“Kuncinya kerja sama dan kejelasan hasil,” tutupnya. (Adv/Kominfo)









