
VIDETIMES – Dinas Kesehatan Kutai Timur mencatat, hingga Oktober tahun ini terdapat sekitar 100 kasus HIV/AIDS yang terpantau di wilayah tersebut. Meski angka itu relatif stabil dibanding tahun sebelumnya, Dinkes menilai jumlah sesungguhnya bisa lebih besar.
Plt. Kadinkes Kutim, Sumarno, mengatakan bahwa data tersebut mencakup pasien lama dan baru yang masih menjalani pengobatan.
“Kalau totalnya memang sekitar seratusan, tapi itu termasuk pasien lama yang masih hidup dan rutin berobat,” ujarnya.
Menurutnya, HIV/AIDS merupakan penyakit dengan masa inkubasi panjang, sehingga banyak orang tidak menyadari sudah terinfeksi.
“Karena itu disebut gunung es. Yang terlihat hanya sedikit, padahal yang belum terdeteksi jauh lebih banyak,” jelasnya, Sabtu (15/11/2025).
Ia menambahkan, faktor perilaku berisiko masih menjadi penyebab utama penularan di Kutim, termasuk hubungan seks bebas dan penggunaan jarum suntik bergantian.
“Rata-rata penderita berasal dari kelompok usia produktif, antara 20 sampai 40 tahun,” terangnya.
Untuk menekan angka penularan, Dinkes bersama Puskesmas terus memperluas layanan tes sukarela dan konseling HIV di semua kecamatan.
“Kami dorong masyarakat untuk berani memeriksakan diri tanpa rasa takut atau malu,” tegas Sumarno.
Selain itu, pihaknya memperkuat kerja sama dengan KPAD, lembaga sosial, serta tenaga penyuluh lapangan untuk menjangkau wilayah yang sulit terakses.
“Pendekatan komunitas sangat efektif, karena mereka bisa menjangkau kelompok berisiko dengan lebih terbuka,” katanya.
Meski angka penemuan kasus meningkat, hal itu dianggap positif karena menandakan kesadaran masyarakat mulai tumbuh.
“Lebih baik ditemukan dan diobati daripada tidak tahu dan menularkan ke orang lain,” ucapnya.
Sumarno menegaskan, Dinkes Kutim akan terus bekerja keras agar HIV tidak lagi menjadi momok di masyarakat.
“Kami yakin, dengan kolaborasi dan kesadaran bersama, eliminasi HIV tahun 2030 bisa kita capai,” pungkasnya.(Adv/Kominfo)









