
Kutai Timur, Videtimes.com — Sektor jalan dan jembatan mendominasi alokasi anggaran Multi Years Contract (MYC) 2026–2027 di Kutai Timur dengan dana mencapai Rp606,5 miliar, atau hampir 60 persen dari total anggaran tahunan jamak. Hal ini disampaikan Plt. Sekretaris DPRD Kutai Timur, Hasara, dalam pembacaan nota kesepakatan di rapat paripurna DPRD.
Dalam pembacaan nota kesepakatan tersebut, Hasara menjelaskan bahwa besarnya anggaran mencerminkan kebutuhan mendesak untuk memperkuat infrastruktur dasar di wilayah yang luas dan tersebar. “Anggaran Rp606,5 miliar ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan kebutuhan nyata untuk memastikan mobilitas masyarakat, konektivitas antarwilayah, dan kelancaran logistik,” ujarnya.
Rincian proyek yang dibacakan mencakup:
Rekonstruksi jalan Batu Balai–Simpang Log Pon, Pembangunan jembatan Long Melah–Mara Haloq, Peningkatan akses jalan Rantau Pulung–Sangatta Utara.
Setiap paket pekerjaan disertai pembagian alokasi per tahun sehingga publik dapat memantau penggunaan dana Rp606,5 miliar secara bertahap selama periode 2026–2027.
Hasara menekankan bahwa proyek-proyek ini tidak hanya menitikberatkan pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemerataan manfaat pembangunan di seluruh kecamatan. Beberapa wilayah yang menjadi fokus antara lain Telen, Bengalon, Muara Ancalong, Sandaran, dan Long Mesangat. Menurutnya, pemerataan ini penting untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah dan memastikan seluruh lapisan masyarakat merasakan manfaat pembangunan.
Selain itu, Hasara menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan MYC. “Dengan membacakan nota kesepakatan secara terbuka, DPRD dan masyarakat dapat memahami secara jelas bagaimana Rp606,5 miliar digunakan, serta menilai efektivitas setiap proyek yang berjalan,” katanya.
Sektor jalan dan jembatan dianggap sebagai tulang punggung pembangunan Kutai Timur. Investasi di bidang ini tidak hanya meningkatkan konektivitas, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kelancaran distribusi barang dan jasa, serta membuka akses ke desa-desa terpencil.
Hasara menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa keberhasilan sektor jalan dan jembatan akan menjadi penentu keberhasilan keseluruhan program MYC di Kutai Timur. Dengan demikian, pembacaan nota kesepakatan ini menjadi langkah strategis untuk menjaga akuntabilitas, memastikan pembangunan berkelanjutan, dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap pengelolaan anggaran daerah. (Adv)









