SAMARINDA, VIDETIMES.com – Pembangunan Driving Range Golf di kawasan GOR Segiri Samarinda terus berjalan dengan nilai investasi besar. Namun, DPRD Kota Samarinda mengingatkan agar proyek ini tak hanya fokus pada kemegahan infrastruktur, tetapi juga memperhatikan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dan pengelolaan jangka panjang yang matang.
Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, secara khusus menyoroti anggaran tahap kedua proyek ini yang mencapai Rp33 miliar. Dari jumlah itu, sekitar 45 persen di antaranya digunakan untuk pengadaan sistem digital golf canggih yang diimpor langsung dari Korea Selatan.
“Kalau dilihat dari struktur anggarannya, 45 persen itu tersedot untuk sistem layanan golf. Ini satu paket IT dari Korea yang katanya juga digunakan di Lapangan Arjuna dan Dago,” ungkap Deni (26/7/2025).
Sistem digital tersebut mencakup fitur seperti pencatatan skor otomatis, penjadwalan latihan, hingga layanan pelanggan berbasis teknologi. Menurut Deni, sistem ini memang modern, tetapi tak akan berjalan optimal jika tidak diimbangi dengan SDM yang mumpuni.
Ia pun mendorong adanya pelatihan teknis intensif bagi operator lokal dan pembentukan manajemen pengelola yang profesional. Tujuannya agar pengoperasian Driving Range ini tidak sekadar seremoni pembukaan, lalu macet di tengah jalan.
“Kalau tidak ada tim yang benar-benar menguasai sistem ini, bisa-bisa teknologinya cuma jadi pajangan mahal,” tegasnya.
Selain belanja sistem digital, sekitar 39 persen dari anggaran juga digunakan untuk pembangunan fisik seperti tiang dan jaring pengaman area latihan. Sisanya dialokasikan untuk fasilitas penunjang lainnya.
Proyek Driving Range Golf ini sendiri berdiri di atas lahan seluas 9.800 meter persegi. Jika ditotal, dua tahap pembangunan proyek ini menelan biaya sekitar Rp60 miliar.
Deni menyebut, dengan nilai sebesar itu, fasilitas ini harus bisa memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan menjadi aset yang dikelola secara berkelanjutan.
“Ini aset mahal milik kota. Harus dijaga dan dikelola oleh manajemen yang profesional. Jangan sampai uang rakyat menguap hanya karena kelalaian pengelolaan,” tutup Deni.









