SAMARINDA, VIDETIMES.com – DPRD Kota Samarinda menilai kebijakan penguatan kebudayaan daerah masih belum memiliki arah yang jelas dan strategis.
Hingga kini, sektor kebudayaan dinilai belum sepenuhnya diposisikan sebagai instrumen penting dalam membangun identitas kota dan meningkatkan daya saing daerah.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menegaskan bahwa kebudayaan seharusnya menjadi fondasi utama dalam pengembangan city branding, bukan sekadar agenda pelestarian yang bersifat seremonial.
“Kota ini memiliki jejak sejarah dan ruang budaya yang kuat, namun belum dikelola sebagai kekuatan pembangunan,” bebernya, Selasa (16/12/2025).
Ia menyebut Samarinda memiliki sejumlah titik dan aset budaya yang potensial, seperti kawasan Citra Niaga, rumah adat, hingga masjid tua yang dapat dikembangkan sebagai simpul edukasi sekaligus destinasi budaya.
Namun, potensi tersebut kerap tidak tergarap optimal karena lemahnya pembinaan serta minimnya dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Menurut Puji, persoalan mendasar bukan terletak pada ketersediaan aset budaya, melainkan pada keberpihakan anggaran dan keseriusan pemerintah kota dalam membangun ekosistem kebudayaan.
Tanpa dukungan kebijakan yang kuat, lembaga adat dan komunitas budaya akan sulit bergerak secara konsisten.
Ia juga mengingatkan bahwa kurangnya ruang ekspresi bagi budaya lokal dapat berdampak pada melemahnya identitas masyarakat.
Khususnya generasi muda, yang rentan tergerus arus budaya luar jika tidak dibekali ruang dan dukungan yang memadai.
DPRD Samarinda, lanjut Puji, mendorong Pemerintah Kota untuk mulai memandang kebudayaan sebagai investasi sosial jangka panjang
Meski berada di tengah kebijakan efisiensi anggaran, sektor kebudayaan dinilai tetap perlu memperoleh porsi yang adil dan terarah.
“Kalau kebudayaan hanya dipandang sebagai pelengkap, kita akan kehilangan kesempatan membangun karakter kota. Padahal, dari sanalah kekuatan sosial dan potensi pariwisata bisa tumbuh,” pungkasnya.









