
VIDETIMES – Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, menyebutkan bahwa pihaknya kini fokus memperkuat layanan pengobatan dan pencegahan HIV/AIDS dengan menyasar populasi kunci.
Populasi kunci dimaksud meliputi pekerja seks, laki-laki suka sesama laki-laki (LSL), pengguna narkoba suntik, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes dan TBC yang memiliki daya tahan tubuh lemah.
“HIV ini ibarat gunung es. Yang tampak di permukaan sedikit, tapi di bawah masih banyak yang belum terdeteksi,” ujarnya, Sabtu (16/11/2025).
Untuk memutus rantai penularan, Dinkes memperkuat kerja sama dengan klinik perusahaan dan komunitas lokal.
“Setiap klinik perusahaan kita dorong memiliki program pendampingan pasien HIV, termasuk PDP dan AIP,” jelasnya.
Selain itu, edukasi terus digalakkan agar masyarakat memahami bahwa HIV bukan penyakit mematikan bila rutin berobat.
“Banyak teman-teman ODHA sekarang justru menjadi penyuluh, mengedukasi orang lain bahwa mereka bisa hidup normal,” tambahnya.
Menurut Sumarno, strategi ini sekaligus menekan stigma sosial yang selama ini menjadi hambatan utama.
“Kita ingin ubah cara pandang masyarakat. ODHA harus dirangkul, bukan dijauhi,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan sekitar dalam keberhasilan pengobatan.
“Kalau pasien didukung, mereka lebih semangat menjalani terapi. Dan yang terpenting, mereka tidak menularkan ke orang lain,” ujarnya.
Program ini mendapat dukungan penuh dari tenaga kesehatan di lapangan yang terus melakukan pendampingan secara personal. Sumarno berharap, pendekatan humanis ini menjadi kunci utama menuju eliminasi HIV 2030 di Kutim.(K/Kominfo)









