BLITAR, VIDETIMES.com – Ribuan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dari berbagai penjuru Tanah Air berkumpul di Kota Blitar, Jawa Timur, dalam sebuah forum Konsolidasi Nasional dan Ziarah Kebangsaan yang berlangsung pada Sabtu hingga Minggu, 21–22 Juni 2025.
Kegiatan ini dipusatkan di Museum PETA dan Makam Bung Karno, tempat bersejarah yang dipilih sebagai simbol penyatuan langkah dan semangat perjuangan ideologis kader GMNI. Momen ini menjadi panggung penting dalam upaya merajut kembali keutuhan organisasi yang belakangan ini diwarnai dualisme kepemimpinan.
Inisiatif ini digagas oleh DPD GMNI Jawa Timur sebagai bentuk respons terhadap kekisruhan internal yang berlangsung cukup lama. Para kader dari DPD dan DPC se-Indonesia hadir dengan tekad membangun kembali GMNI yang solid, satu garis perjuangan, dan kokoh secara ideologis.
“Kami tidak ingin GMNI terus-menerus terjebak konflik internal. Forum ini dibentuk sebagai langkah kolektif menyusun masa depan organisasi,” ujar Ketua DPD GMNI Jatim, Hendra Prayogi, pada Senin (23/6/2025).
Dalam forum tersebut, dibentuklah Forum Nasional Komunikasi Persatuan yang terdiri dari perwakilan DPD dan DPC dari seluruh Indonesia. Forum ini akan memperkuat komunikasi lintas struktur, mendorong pelaksanaan Kongres Persatuan, dan memulihkan kerja kaderisasi di tingkat nasional.
Hendra menekankan bahwa forum ini bukan hanya langkah strategis, melainkan juga bentuk tanggung jawab moral serta komitmen ideologis kader terhadap marwah perjuangan GMNI.
“GMNI harus kembali satu komando. Tidak cukup hanya menyuarakan marhaenisme, tapi juga harus mampu menata rumah organisasinya sendiri,” tegasnya.
Sebagai bagian dari kegiatan, para kader juga melakukan ziarah ke Makam Bung Karno. Ziarah tersebut menjadi ruang reflektif untuk meneguhkan kembali semangat perjuangan sang proklamator yang selama ini menjadi inspirasi utama gerakan marhaenis.
Dari Blitar, para kader GMNI menyerukan komitmen bersama untuk memperkuat solidaritas nasional, menjaga semangat kebangsaan, dan menjadikan GMNI sebagai rumah ideologis yang inklusif namun tetap tegas pada garis perjuangannya.
“Kami pulang membawa semangat baru. Ini bukan sekadar acara seremonial, tapi awal dari penyatuan GMNI,” pungkas Hendra.









