
VIDETIMES – Tren penyakit tidak menular (PTM) kini mulai mengkhawatirkan di Kabupaten Kutai Timur. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim mencatat semakin banyak kasus diabetes melitus dan hipertensi ditemukan pada kelompok usia muda, yang seharusnya masih dalam masa produktif.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kutim,Sumarno, mengungkapkan bahwa perubahan gaya hidup menjadi faktor utama pemicu meningkatnya penyakit tersebut.
“Sekarang anak muda usia 20 tahun sudah banyak yang kena kencing manis. Ini akibat gaya hidup yang tidak sehat,” ujarnya, Sabtu (22/11/2025).
Menurut Sumarno, pola makan tinggi gula, konsumsi makanan cepat saji, serta minimnya aktivitas fisik menjadi penyebab utama. Banyak generasi muda yang terbiasa nongkrong di kafe sambil menikmati minuman manis tanpa memperhatikan dampaknya bagi kesehatan.
“Anak muda sekarang lebih sering duduk di depan cafe, jarang bergerak, dan suka makanan instan. Itu yang menyebabkan metabolisme tubuh terganggu,” terang Sumarno.
Ia menambahkan, meningkatnya daya beli masyarakat juga berpengaruh pada pola konsumsi. Dengan ekonomi yang membaik, masyarakat cenderung memilih makanan modern yang cepat saji, padahal kandungan gizinya tidak seimbang.
“Kalau dulu orang makan seadanya, sekarang justru berlebihan. Semua serba manis dan tinggi lemak. Ini yang meningkatkan risiko diabetes,” ujarnya.
Dinkes Kutim terus berupaya menekan peningkatan kasus dengan memperluas program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di seluruh wilayah kecamatan. Melalui program ini, masyarakat didorong untuk rutin memeriksa kadar gula darah dan tekanan darah.
“Dengan CKG, kita bisa tahu lebih awal kalau ada potensi penyakit. Kalau terdeteksi tinggi, langsung ditindaklanjuti oleh petugas kesehatan,” kata Sumarno.
Selain pemeriksaan, pihaknya juga menggencarkan edukasi tentang pentingnya mengurangi konsumsi gula dan karbohidrat berlebih. Ia mengimbau agar masyarakat mulai memperbanyak konsumsi buah, sayur, serta air putih.
“Gula itu tetap dibutuhkan tubuh, tapi harus dalam batas wajar. Kalau berlebihan bisa berbahaya, jadi keseimbangan itu kuncinya,” tegasnya.
Dinkes Kutim juga menyasar kalangan remaja dan pelajar lewat sosialisasi kesehatan di sekolah. Program ini dijalankan bersama puskesmas di setiap kecamatan untuk membentuk kebiasaan sehat sejak dini.
“Kita tidak ingin generasi muda Kutim sakit karena hal yang sebenarnya bisa dicegah. Edukasi ini bentuk investasi jangka panjang,” jelasnya.
Sumarno menilai, pola hidup sehat bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kesadaran pribadi. Ia berharap masyarakat mulai memperhatikan asupan makanan dan kebiasaan harian mereka.
“Hidup sehat itu sederhana, asal kita mau disiplin. Kurangi gula, banyak bergerak, dan rutin periksa kesehatan. Itu kunci agar terhindar dari PTM,” tutupnya. (K/AdvKominfo)









